Selasa, 10 Oktober 2017

Memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia



hari ini, 10 Oktober diperingati sebagai hari kesehatan mental dunia. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan kepedulian masyarakat seluruh dunia tentang kesehatan mental. Meskipun Word Federation for Mental Health sudah sejak tahun 1992 menginisiasi perayaan ini (satu tahun kemudian di Indonesia), nampaknya tujuan tersebut belum sesuai harapan. Kesadaran masyarakat (khususnya di Indonesia) akan pentingnya menyadari kondisi mental seperti depresi, stres, traumatik, dan gangguan suasana hatipun masih kurang. Bahkan perasaan yang sering disepelekan seperti iri hati, dengki, sombong, riya’, susah melihat orang lain bahagia atau bahagia melihat orang lain susah, adalah juga bagian dari gangguan kesehatan mental.
Apalagi di era milenial ini isu tentang pandangan hidup, kesadaran diri, simpati, empati, toleransi, bahkan sikap prososial di sekitar kita mulai menipis. Padahal jika kita mau sedikit memahami, sebagai masyarakat Indonesia, nilai-nilai Agama, budaya dan kearifan lokal, tidak satupun yang mengesampingkan urusan hati/jiwa/mental.
Pada akhirnya, mari (bukan sebab saya lebih paham atau lebih sehat mentalnya) bersama, kita lebih menyadari, memahami, dan peduli tentang kesehatan mental.
Selamat hari kesehatan mental dunia.
#yukBerdamaiDenganDiri
#RayakanKesehatanMental
#BangunJiwa


Senin, 13 Februari 2017

Hey kalian, kawan-kawanku..

Sibuk apa kalian hari ini?

Jan, apakah kau masih sibuk menentukan metode skripsimu? Atau kasus apa yang harus kau angkat?. Maaf jika aku tak bisa banyak membantu, bahkan sekedar bertemu dan menjadi tempat ceritamu. Tapi keyakinanku padamu tetap sama, bahwa suatu saat nanti kau akan menjadi laki-laki hebat, atau mungkin melebihi apa yang aku bayangkan sekarang.

Fa, aku tau, ketika kita terjebak di jalan yang tidak pernah kita inginkan, berat rasanya kita melangkah. Tapi, kau laki-laki kawan.! Harusnya kau berlari.! Selesaikan ini dengan cepat dan temukan jalan yang memang kau inginkan. Jangan buat dunia karyamu yang sebenarnya memunggu terlalu lama.

Lita, aku punya murid di sini yang nama panggilanya sama denganmu “Lita”. Dia cantik, masih kelas sepuluh, akuntansi. Aku belum tau apakah dia suka membaca sepertimu atau tidak, tapi entah kenapa setiap aku masuk kelasnya aku ingat kamu.

Ayu, hey?. Bagaimana penelitianmu? Tambah banyakkah tantangannya?.
Aku tak punya saran apapun yu, pun kau mungkin tak membutuhkan itu, karna menurutku apa yang kau lalui lebih dari apa yang aku ketahui. Hanya saja, semoga sebait doa untukmu pagi ini sampai padaNya.

Dan amel, aku dengar kau akan segera menikah?. Senang rasanya aku mendengar kabar itu mel. Selamat ya...

Jujur, aku rindu dengan kalian, hanya saja tanggung jawabku saat ini menahanku untuk tetap di sini. Banyak sebenarnya yang ingin aku ceritakan, tentang aktifitasku, murid-muridku, guru-guru di sini, hingga perubahan hidupku.
Oh ya, ada salah satu guru di sini, beliau juga seorang Kyai, bijakasana dan aktif menulis. Aku sudah baca beberapa tulisannya, amazing... 

Beberapa hari lalu beliau sempat bilang, “pak adib, perasaan saat kita mengalami sesuatu itu hanya lewat sekali, kita tidak dapat mengulanginya kembali dengan perasaan yang sama. Jadi eman-eman kalau itu tidak ditulis. Dan tentang menulis, jangan khawatir tidak dibaca oleh orang lain, karna yakinlah bahwa setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri. Bahkan kalimat yang sudah njenengan tuliskan pada hakikatnya bukan milik njenengan lagi. Tidak boleh njenengan mengklaim itu tulisanku, karna sekali lagi apa yang telah njenengan tuliskan itu bukan lagi milik njenengan tapi milik pembaca”.

Banyak hal yang aku pelajari di sini kawan, dan sekarang aku mulai mengerti, mungkin inilah jawaban mengapa Tuhan meletakanku di sini. Agar aku tetap dapat belajar.

Sementara itu, aku harus kembali ke kelas, murid-muridku sudah menunggu.

Salam rindu dari kawan kalian, Amin Al Adib.

Sabtu, 04 Februari 2017

Untuk yang menikah hari ini, Rahma sahabatku



Sebelumnya aku minta maaf karena tak bisa datang di hari spesialmu, bahkan sekedar mengucapkan selamat atas pernikahanmu secara langsung. Ingin rasanya aku ada di sisimu saat ini, melihat senyum manis dari wajah teduhmu yang tentunya lebih manis dari biasanya. Ahh, sampai-sampai aku tak bisa membayangkannya ma.
Jujur aku sempat terkejut ketika beberapa hari lalu, tiba-tiba kau kirim sebuah video undangan pernikahanmu. Memang, sebelum perayaan wisuda kita waktu itu, kau sempat bilang bahwa mungkin beberapa bulan ke depan kau akan menikah, tapi aku tak membayangkan secepat ini, atau ini hanya perasaanku saja, bahwa jarak antara kita diwisuda dan hari ini belum begitu lama?.
Oh ya, aku masih ingat sekali cerita tentang laki-laki yang kau anggap pemberani dan pantang menyerah untuk mendapatkan cintamu. Bahkan sebelumnya, kaupun sempat tak memperdulikan usahanya itu, sampai akhirnya kau benar-benar yakin bahwa mungkin dialah laki-laki baik yang Tuhan kirimkan untukmu, sekaligus jawaban atas doa Ibumu selama ini.
Jujur ma, aku iri dengan dia. Bukan karena aku memendam perasaan lain terhadapmu, atau bahkan hasrat ingin memilikimu, tapi lebih karena persepsimu terhadapnya. Dengan perjuangannya, Tuhan tumbuhkan rasa cinta hingga keyakinan di hatimu bahwa dialah yang tertulis di Lauh al-Mahfudz dan perantara bagi Surgamu.
Tidak banyak yang bisa aku berikan padamu, hanya sebatas ungkapan dan sesuatu yang aku harapkan menjadi bagian kecil saat kau memulai hidup barumu. Semoga bermanfaat.
Sampaikan salamku untuk suamimu, aku rasa dia beruntung mendapatkanmu, pun kau beruntung mendapatkannya. Aku sangat berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi.
Selamat atas pernikahanmu, doa baikku semoga dengan mawaddah yang Allah berikan menjadikan keluarga kalian sakinah warohmah, aamiin.

Sahabatmu, Amin al Adib

Sabtu, 05 November 2016

Untuk Adhitama, saja...

Selamat malam Adhitama? apa kabar? Sudah lama aku tak menceritakan sesuatu untukmu, mungkin kau berfikir aku mulai bosan bercerita padamu, sama seperti bosannya mahasiswa semester akhir mereview jurnal... 
        Sejujurnya, aku tak pernah merasa bosan bercerita kepadamu adhitama, hanya saja beberapa hari ini aku harus menyelesaikan tugas-tugas kuliahku. Kau tau, aku selalu rindu ingin bercerita padamu, bahkan hari inipun, aku menulis cerita ini dengan rasa rindu yang aku pendam, rasa rindu yang belum bisa aku ungkapkan, dan rasa rindu yang belum bisa aku sampaikan.
          Waktu itu aku pernah bilang padamu kalau aku akan berkunjung ke susteran dan sekolah pastur kan?. Yaa...pagi tadi aku dan teman-teman angkatanku kesana, dan ini adalah pengalaman pertamaku. Kau tau, waktu kita sampai dihalaman kesusteran, kita langsung disambut senyum tulus mereka, benar-benar tulus, aku bisa merasakannya, meskipun aku lebih menyukai senyumanmu. Ya, Senyuman saat pertama kali kita bertemu, dilapangan upacara kala itu, tapat ketika aku berdiri dihadapanmu, mengomando teman-teman seangkatanmu untuk baris rapi, kau ingat moment itu adhitama?.
          Hmm...aku lanjutkan, setelah kita disambut dan dipersilahkan duduk, baru suster-suster dan calon romo, mungkin dalam agama Islam disebut calon ustadz atau kyai, satu persatu memperkenalkan diri. akhh...aku gak ingat nama-nama mereka adhitama, hanya beberapa saja, kau tau sendiri aku bukanlah penghafal yang baik, bahkan kaupun hanya tertawa saat aku bilang aku bosan dengan Ngaji Ghorib yang harus menghafal redaksi, letak ayat, surat dan juz dalam Al-Qur’an, meski kau tetap menyemangatiku.
          Beberapa dari mereka memberi sambutan, dan setelahnya kita diberi waktu untuk tanya jawab. Teman-teman nampaknya antusias, mereka banyak bertanya, ada yang bertanya tentang teologi dalam agama mereka, aspek psikologis, bahkan ada yang bertanya yang menurutku kurang pas untuk ditanyakan, tapi mereka tetap menjawab pertanyaan itu dengan ikhlas, tanpa tersinggung ataupun marah, dan bahkan terkadang saat mereka bicara, mereka selingi dengan candaan yang cukup membuat ruangan itu ramai dengan tawa teman-teman semua.
          Ada satu kalimat dari calon romo yang menurutku menarik adhitama, dia bilang bahwa kita semua itu bersaudara, bukan hanya manusia dengan manusia, tapi manusia dengan tumbuhan, manusia dengan hewan, dan manusia dengan alam semesta, karna kita semua berasal dari Tuhan yang satu maka kita semuanya saudara, terlepas dari kita menyebut yang Satu itu Alloh atupun Allah.
Aku jadi teringat salah satu novel yang pernah kubaca, novel tentang mimpi pemuda kristiani yang bertemu dengan Muhammad, yaa Muhammad SAW, nabi kita adhitama. di mimpinya itu Muhammad bertanya kepada pemuda kristiani itu “Apa yang lebih tinggi dari pada iman?” tiga kali Muhammad bertanya adhitama, pemuda kristiani itu tetap diam, "memang apa yang lebih tinggi dari pada iman?" batin dia. 
Akupun sebelumnya tak tau adhitama, menurutku iman diatas segalanya, kau juga berfikiran seperti itu kan?..namun Muhammad SAW sambil tersenyum berucap “‘Kebaikan, kebaikan itu diatas iman”.
Jawaban itu sangat rasional adhitama, perkataan Muhammad SAW dalam mimpi pemuda kristiani itu sangat rasional. Bukankah kebaikan itu bersifat universal?, saat kau menolong orang tua untuk menyebrang jalan, apakah kau akan berfikir dulu, apa agamanya, apa sukunya, atau apa rasnya? Tidak kan?. Itulah kebaikan adhitama, kebaikan memang di atas iman, dan kebaikan itulah yang mencerminkan fitrah suatu agama.
Ya, setidaknya itu yang aku dapatkan saat di susteran St.Maria. kau juga ingin tau hikmah apa yang aku dapatkan disekolah pastur kan?...besok akan aku ceritakan lagi, hari ini aku capek sekali, aku ingin istirahat...

Selam rindu dariku...

Minggu, 08 November 2015

Hujan



Sore kemarin, kau tiba-tiba datang begitu saja di kota ini, kota yang hampir 8 bulan tak kau basahi. Padahal baru beberapa hari yang lalu aku dapat kabar, katanya kau akan datang akhir tahun ini, atau bahkan awal tahun depan. Tapi biarlah, lagipula akhir-akhir tahun ini kau memang suka seenaknya datang begitu saja, tidak seperti dulu. Dulu, orang-orang desa sekitar rumahku bisa tau kapan kau akan datang, mereka punya waktu untuk mempersiapkan pesta perayaan kedatanganmu. Bapak-bapak sibuk memperbaiki atap rumah, Ibu-ibu mengumpulkan payung-payung rusak untuk diperbaiki, anak-anak mulai sibuk membuat permainan, dan para orang tua mulai menyiapkan baju-baju hangat mereka yang sudah lama disimpannya. Mereka sangat antusias menyambut kedatanganmu. Dan sekarang, jangankan orang-orang desa sekitar rumahku, orang-orang pandai yang mengatas namakan diri mereka ahli cuacapun tidak tau kapan pastinya kau akan datang. Buktinya beberapa hari lalu, kata mereka kau akan datang di akhir tahun ini atau bahkan awal tahun depan, tapi ternyata kemarin kau datang dengan tiba-tiba.  
Ah, sudahlah...bukan tentang itu juga yang ingin aku katakan padamu, tapi tentang dia. Ya dia, teman dekatmu.
Bagaimana kabarnya?
Kau masih berteman dengannya kan?
Aku tau kau punya banyak teman dekat, tapi tidak mungkinkan kau akan melupakannya?
Kau tau, setiap kali kau datang aku selalu melihat wajahnya ada bersamamu. Aku masih ingat ketika pulang lepas pertama kali aku ajak dia jalan, tiba-tiba kau datang mengalihkan perhatiannya padaku. Aku langsung mengeluarkan mantel agar kau tak membasahinya, aku takut dia sakit gara-gara kau. Tapi dia justru enggan untuk memakainya.
Aku tak mengerti kenapa dia begitu menyukaimu dan selalu mengharap kedatanganmu, padahal kau sering buat dia flu bahkan terkadang demam setelah seharian bermain denganmu. Sedangkan aku, yang selalu berusaha melindunginya, menjaganya, bahkan menghiburnya, belum begitu dia sukai. Tapi, meskipun dia belum begitu menyukaiku aku akan tetap ada untuknya, melalui do’a yang ku panjatkan, melalui angin yang Tuhan gerakkan, dan melalui perasaan yang Tuhan anugerahkan. Akan aku kasih tau apa isi do’aku,

“Tuhan, sesungguhnya aku tak meminta Engkau untuk menjadikan ia sebagai kekasihku hanya karna aku ingin memuaskan perasaanku padanya. Tapi jika dengan menjadikan ia sebagai kekasih membuatku lebih mensyukuri akan nikmat, keindahan, dan cinta yang Engkau anugerahkan, maka sesungguhnya aku hanya hamba kecilMu yang tak punya daya kekuatan apapun untuk dapat menolaknya. aamiin”

Oke, itu aja, sampaikan salamku jika kau sedang bersamanya...

Sabtu, 07 November 2015

Untuk Khadijah, Novita, dan Silvi


Adik-adik yang kakak sayangi, jangan masamkan muka manis kalian hanya karna tersisih diperlombaan tadi, jangan kalian takut kakak akan kecewa dengan hasil ini. Perlombaan bukan hanya tentang mendapatkan piala sayang, tapi juga kemenangan hati mengikhlaskan kehendakNYA.
Kakak selalu bangga punya adik-adik yang hebat seperti kalian.
Memang, terkadang harapan tak seperti kenyataan, seperti yang telah kakak pelajari diteori-teori kuliah yang kadang menjengkelkan. Bukan karna metode atau dosennya yang kurang sesuai dengan apa yang dipelajari, tapi karna saat kakak berusaha untuk memahami bahkan menghafalnya, itu hanya berlaku di ujian semester, bukan dikehidupan sayangku.
Adik-adikku tersenyumlah, sadari bahwa inilah kehidupan, jangan pernah mengharap padanya, tapi harapkanlah dirimu untuk merubah kehidupan itu.
Berbahagialah adik-adikku, karna Tuhan sedang mengajarkanmu arti kedewasaan. Meskipun terkadang Tuhan terlihat kejam saat akan mendewasakan diri kita.
Dan tertawalah pada semesta sayangku, karna dia sedang menunggu kalian menjadi seorang juara, bukan juara lomba puisi, bukan juara lomba menggambar, mewarnai dan sebagainya, tapi juara untuk kehidupan kalian.
Tersenyum, Berbahagia, dan Tertawalah adik-adikku.
Salam hangat dari kakak kalian, Mas Adib